JUAL PEMANCAR RADIO FM PEMANCAR TV TOWER ANTENA DLL KARANGPANDAN SOLO..... 0271 794 7140......085 293 222 425
RADIO NU SOLO ATAU LEBIH POPULER SIMA ANTENA

ADALAH BENGKEL PEMANCAR RADIO FM

PEMANCAR TV ANTENA PEMANCAR TOWER

DAN PERALATAN PENDUKUNG SIARAN RADIO FM

HUBUNGI http://radionu.blogspot.com

TLP 0271 794 7140 hp 085 293 222 425

Minggu, 12 September 2010

MBAH KHOLIL BANGKALAN MADURA

RADIO NU SOLO
seorang kiai di Kampung Senenan, desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan,
Kabupaten Bangkalan, Ujung Barat Pulau Madura; merasakan kegembiraan yang
teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya lahir seorang anak
laki-laki yang sehat, yang diberinya nama Muhammad Khalil.

Kiai ‘Abd. Al-Latif sangat berharap agar anaknya di kemudian hari menjadi
pemimpin ummat, sebagaimana nenek moyangnya. Seusai meng-adzani telinga
kanan dan meng-iqamati telinga kiri sang bayi, Kiai ‘Abdul Latif memohon
kepada Allah agar Dia mengabulkan permohonannya.


K.H. Khalil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, K.H. ‘Abd Al-Latif,
mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah ‘Abd Al-Latif
adalah Kiai Hamim, anak dari Kiai ‘Abd Al-Karim. Yang disebut terakhir ini
adalah anak dari Kiai Muharram bin Kiai Asra Al-Karamah bin Kiai ‘Abd Allah
b. Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati. Maka tak
salah kalau Kiai ‘Abd Al-Latif mendambakan anaknya kelak bisa mengikuti
jejak Sunan Gunung Jati karena memang dia masih terhitung keturunannya.


Oleh ayahnya, ia dididik dengan sangat ketat. Kholil kecil memang
menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh
dan nahwu, sangat luar biasa, bahkan ia sudah hafal dengan baik Nazham
Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda. Untuk memenuhi
harapan dan juga kehausannya mengenai ilmu Fiqh dan ilmu yang lainnya, maka
orang tua Kholil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu.


*Belajar ke Pesantren*


Mengawali pengembaraannya, sekitar tahun 1850–an, Kholil muda berguru pada
Kiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan Tuban. Dari Langitan, Kholil nyantri
di Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Dari sini Kholil pindah lagi ke
Pesantren Keboncandi, Pasuruan.


Selama di Keboncandi, Kholil juga belajar kepada Kiai Nur Hasan yang masih
terhitung keluarganya di Sidogiri. Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri
sekitar 7 Kilometer. Tetapi, untuk mendapatkan ilmu, Khalil rela melakoni
perjalanan yang terbilang lumayan jauh itu setiap harinya. Di setiap
perjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri, ia tak pernah lupa membaca Surah
Yasin; dan ini dilakukannya hingga ia -dalam perjalanannya itu- khatam
berkali-kali.


Sebenarnya, bisa saja Kholil tinggal di Sidogiri selama nyantri kepada Kiai
Nur Hasan, tetapi ada alasan yang cukup kuat bagi dia untuk tetap tinggal di
Keboncandi, meskipun Kholil sebenarnya berasal dari keluarga yang dari segi
perekonomiannya cukup berada. Ini bisa ditelisik dari hasil yang diperoleh
ayahnya dalam bertani. Karena, Kiai ‘Abd Al-Latif, selain mengajar ngaji, ia
juga dikenal sebagai petani dengan tanah yang cukup luas, dan dari hasil
pertaniannya itu (padi, palawija, hasil kebun, durian, rambutan dan
lain-lain), Kiai ‘Abd Al-Latif cukup mampu membiayai Kholil selama nyantri.


Akan tetapi, Khalil tetap saja menjadi orang yang mandiri dan tidak mau
merepotkan orangtuanya. Karena itu, selama nyantri di Sidogiri, Khalil
tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Dari hasil
menjadi buruh batik inulah Khalil memenuhi kebutuhannya sehari-hari.


Kemandirian Khalil juga nampak ketika ia berkeinginan untuk menimba ilmu ke
Mekkah. Karena pada masa itu, belajar ke Mekkah merupakan cita-cita semua
santri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali ini, lagi-lagi Khalil tidak
menyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada kedua
orangtuanya.


Kemudian, setelah Khalil memutar otak untuk mencari jalan ke luarnya,
akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi.
Karena, pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang cukup
luas. Dan selama nyantri di Banyuwangi ini, Khalil nyambi menjadi “buruh”
pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5
sen. Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan,
Khalil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan
pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya, dari
situlah Khalil bisa makan gratis.


Akhirnya, pada tahun 1859 M., saat usianya mencapai 24 tahun, Khalil
memutuskan untuk pergi ke Mekkah. Tetapi sebelum berangkat, Khalil menikah
dahulu dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih.


Setelah menikah, berangkatlah dia ke Mekkah. Dan memang benar, untuk ongkos
pelayarannya bisa tertutupi dari hasil tabungannya selama nyantri di
Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon, Khalil berpuasa.
Hal tersebut dilakukan Khalil bukan dalam rangka menghemat uang, akan tetapi
untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar perjalanannya selamat.


Sebagai pemuda Jawa (sebutan yang digunakan orang Arab waktu itu untuk
menyebut orang Indonesia) pada umumnya, Khalil belajar pada para syekh dari
berbagai mazhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Namun kecenderungannya
untuk mengikuti Madzhab Syafi’i tak dapat di sembunyikan. Karena itu, tak
heran kalau kemudian dia lebih banyak mengaji kepada para Syekh yang
bermazhab Syafi’i.


Kebiasaan hidup prihatinnya pun, diteruskan ketika di Tanah Arab. Konon,
selama di Mekkah, Kholil lebih banyak makan kulit buah semangka ketimbang
makanan lain yang lebih layak. Realitas ini –bagi teman-temannya, cukup
mengherankan. Teman seangkatan Khalil antara lain: Syekh Nawawi Al-Bantani,
Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani.
Mereka semua tak habis pikir dengan kebiasaan dan sikap keprihatinan
temannya itu.


Padahal, sepengetahuan teman-temannya, Kholil tak pernah memperoleh kiriman
dari Tanah Air, tetapi Kholil dikenal pandai dalam mencari uang. Ia,
misalnya, dikenal banyak menulis risalah, terutama tentang ibadah, yang
kemudian dijual. Selain itu, Kholil juga memanfaatkan kepiawaiannya menulis
khat (kaligrafi). Meskipun bisa mencari uang, Kholil lebih senang
membiasakan diri hidup prihatin. Kebiasaan memakan kulit buah semangka
kemungkinan besar dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali,
salah seorang ulama yang dikagumi dan menjadi panutannya.


Sepulangnya dari Tanah Arab (tak ada catatan resmi mengenai tahun
kepulangannya), Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqih dan Tarekat.
Bahkan pada akhirnya, dia-pun dikenal sebagai salah seorang Kiai yang dapat
memadukan ke dua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-hafidz
(hafal Al-Qur’an 30 Juz). Hingga akhirnya, Khalil dapat mendirikan sebuah
pesantren di daerah Cengkubuan, sekitar 1 Kilometer Barat Laut dari desa
kelahirannya.


Dari hari ke hari, banyak santri yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya.
Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya
sendiri, yaitu Kiai Muntaha; pesantren di Desa Cengkubuan itu kemudian
diserahkan kepada menantunya. Kiai Khalil sendiri mendirikan pesantren lagi
di daerah Kademangan, hampir di pusat kota; sekitar 200 meter sebelah Barat
alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak Pesantren yang baru itu, hanya
selang 1 Kilometer dari Pesantren lama dan desa kelahirannya.


Di tempat yang baru ini, Kiai Khalil juga cepat memperoleh santri lagi,
bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang Pulau Jawa.
Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari, dari
Jombang.


Di sisi lain, Kiai Khalil di samping dikenal sebagai ahli Fiqh dan ilmu Alat
(nahwu dan sharaf ), ia juga dikenal sebagai orang yang “waskita,” weruh sak
durunge winarah (tahu sebelum terjadi). Malahan dalam hal yang terakhir
ini, nama Kiai Khalil lebih dikenal.


*Geo Sosiologi Politik*


Pada masa hidup Kiai Khalil, terjadi sebuah penyebaran Ajaran Tarekat
Naqsyabandiyah di daerah Madura. Kiai Khalil sendiri dikenal luas sebagai
ahli Tarekat; meski pun tidak ada sumber yang menyebutkan kepada siapa Kiai
Khalil belajar Tarekat. Tapi, menurut sumber dari Martin Van Bruinessen
(1992), diyakini terdapat sebuah silsilah bahwa Kiai Khalil belajar kepada
Kiai ‘Abd Al-Azim dari Bangkalan (salah satu ahli Tarekat Naqsyabandiyah
Muzhariyah), tetapi, Martin masih ragu, apakah Kiai Khalil penganut Tarekat
tersebut atau tidak?


Masa hidup Kiai Khalil, tidak luput dari gejolak perlawanan terhadap
penjajah. Tetapi, dengan caranya sendiri Kiai Khalil melakukan perlawanan;
pertama, ia melakukannya dalam bidang pendidikan. Dalam bidang ini, Kiai
Khalil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin yang berilmu,
berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupun
bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya pemimpin umat dan bangsa yang lahir
dari tangannya; salah satu di antaranya: Kiai Hasyim Asy’ari, Pendiri
Pesantren Tebuireng.


Cara yang kedua, Kiai Khalil tidak melakukan perlawanan secara terbuka,
melainkan ia lebih banyak berada di balik layar. Realitas ini tergambar,
bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga
dalam) kepada pejuang, pun Kiai Khalil tidak keberatan pesantrennya
dijadikan tempat persembunyian.


Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Kiai Khalil ditangkap dengan harapan
para pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Kiai Khalil, malah
membuat pusing pihak Belanda; karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisa
mereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga
mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri.


Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi
makanan kepada Kiai Khalil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan
bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya
merelakan Kiai Khalil untuk di bebaskan saja.


*Kiprahnya Dalam Pembentukan NU*


Peran Kiai Khalil dalam melahirkan NU, pada dasarnya tidak dapat diragukan
lagi, hal ini didukung dari suksesnya salah satu dari muridnya, K.H. Hasyim
Asy’ari, menjadi tokoh dan panutan masyarakat NU. Namun demikian, satu yang
perlu digarisbawahi bahwa Kiai Khalil bukanlah tokoh sentral dari NU, karena
tokoh tersebut tetap pada K.H. Hasyim sendiri.


Mengulas kembali ringkasan sejarah mengenai pembentukan NU, ini berawal pada
tahun 1924, saat di Surabaya terdapat sebuah kelompok diskusi yang bernama
Tashwirul Afkar (potret pemikiran), yang didirikan oleh salah seorang kiai
muda yang cukup ternama pada waktu itu: Kiai Wahab Hasbullah. Kelompok ini
lahir dari kepedulian para ulama terhadap gejolak dan tantangan yang di
hadapi umat Islam kala itu, baik mengenai praktik-praktik keagamaan maupun
dalm bidang pendidikan dan politik.


Pada perkembangannya kemudian, peserta kelompok diskusi ingin mendirikan
Jam’iyah (organisasi) yang ruang lingkupnya lebih besar daripada hanya
sebuah kelompok diskusi. Maka, dalam berbagai kesempatan, Kiai Wahab selalu
menyosialisasikan ide untuk mendirikan Jam’iyah itu. Dan hal ini tampaknya
tidak ada persoalan, sehingga diterima dengan cukup baik ke semua lapisan.
Tak terkecuali dari Kiai Hasyim Asy’ari; Kiai yang paling berpengaruh pada
saat itu.


Namun, Kiai Hasyim, awalnya, tidak serta-merta menerima dan merestui ide
tersebut. Terbilang hari dan bulan, Kiai Hasyim melakukan shalat istikharah
untuk memohon petunjuk Allah, namun petunjuk itu tak kunjung datang.


Sementara itu, Kiai Khalil, guru Kiai Hasyim, yang juga guru Kiai Wahab,
diam-diam mengamati kondisi itu, dan ternyata ia langsung tanggap, dan
meminta seorang santri yang masih terbilang cucunya sendiri, dipanggil untuk
menghadap kepadanya.


“Saat ini, Kiai Hasyim sedang resah, antarkan dan berikan tongkat ini
kepadanya.” Kata Kiai Khalil sambil menyerahkan sebuah tongkat. Baik, Kiai.”
Jawab Kiai As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Bacakanlah kepada Kiai Hasyim ayat-ayat ini: Wama tilka biyaminika ya musa,
Qala hiya ‘ashaya atawakka’u ‘alaiha wa abusyyu biha ‘ala ghanami waliya
fiha ma’aribu ukhra. Qala alqiha ya musa. Faalqaha faidza hiya hayyatun
tas’a. Qala Khudzha wa la takhof sanu’iduha sirathal ula wadhumm yadaka ila
janahika takhruj baidha’a min ghiri su’in ayatan ukhra linuriyaka min ayatil
kubra.” Pesan Kiai Khalil.


As’ad segera pergi ke Tebuireng, ke kediaman Kiai Hasyim, dan di situlah
berdiri pesantren yang diasuh oleh Kiai Hasyim. Mendengar ada utusan Kiai
Khalil datang, Kiai Hasyim menduga pasti ada sesuatu, dan ternyata dugaan
tersebut benar adanya.


“Kiai, saya diutus Kiai Khalil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat
ini kepada Kiai.” Kata As’ad, pemuda berusia sekitar 27 tahun itu, sambil
mengeluarkan sebuah tongkat, dan Kiai Hasyim langsung menerimanya dengan
penuh perasaan.


“Ada lagi yang harus kau sampaikan?” Tanya Kiai Hasyim.


“Ada Kiai,” jawab As’ad. Kemudian ia menyampaikan ayat yang disampaikan Kiai
Khalil.


Mendengar ayat yang dibacakan As’ad, hati Kiai Hasyim tergetar. Matanya
menerawang, terbayang wajah Kiai Khalil yang tua dan bijak. Kiai Hasyim
menangkap isyarat, bahwa gurunya tidak keberatan kalau ia dan teman-temannya
mendirikan Jam’iyah. Sejak saat itu, keinginan untuk mendirikan Jam’iyah
semakin dimatangkan.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, setahun telah berlalu, namun
Jam’iyah yang diidamkan itu tak kunjung lahir. Sampai pada suatu hari,
pemuda As’ad muncul lagi.


“Kiai, saya diutus oleh Kiai Khalil untuk menyampaikan tasbih ini,” kata
As’ad.


“Kiai juga diminta untuk mengamalkan Ya Jabbar, Ya Qahhar (lafadz asma’ul
husna) setiap waktu,” tambah As’ad.


Sekali lagi, pesan gurunya diterima dengan penuh perasaan. Kini hatinya
semakin mantap untuk mendirikan Jam’iyah. Namun, sampai tak lama setelah
itu, Kiai Khalil meninggal, dan keinginan untuk mendirikan Jam’iyah belum
juga bisa terwujud.


Baru setahun kemudian, tepatnya 16 Rajab 1344 H., “jabang bayi” yang
ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Dan
di kemudian hari, jabang bayi itu pun menjadi “raksasa”.


Tapi, bagaimana Kiai Hasyim menangkap isyarat adanya restu dari Kiai Khalil
untuk mendirikan NU dari sepotong tongkat dan tasbih? Tidak lain dan tak
bukan karena tongkat dan tasbih itu diterimanya dari Kiai Khalil, seorang
Kiai alim yang diyakini sebagai salah satu Wali Allah.


Tarekat dan Fiqh


Kiai Kholil adalah salah satu Kiai yang belajar lebih daripada satu Madzhab
saja. Akan tetapi, di antara Madzhab-mazdhab yang ada, ia lebih mendalami
Madzhab Syafi’i di dalam Ilmu Fiqh.


Pada masa kehidupan Kiai Kholil, yaitu akhir abad-19 dan awal abad-20, di
daerah Jawa, khususnya Madura, sedang terjadi perdebatan antara dua golongan
pada saat itu. Pada awal abad-20, seperti telah diungkapkan sebelumnya, di
daerah Jawa sedang terjadi penyebaran ajaran Tarekat Naqsyabandiyah,
Qadiriyah wa-Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Muzhariyah dan lain-lain.


Akan tetapi, tidaklah dapat dipungkiri mengenai keterlibatan Kiai Khalil
dalam tarekat, terbukti bahwa Kiai Khalil dikenal pertamakali dikarenakan
kelebihannya dalam hal tarekat, dab juga memberikan dan mengisi ilmu-ilmu
kanuragan kepada para pejuang.


Di sisi lain, Kiai Khalil pun diakui sebagai salah satu Kiai yang dapat
menggabungkan tarekat dan Fiqh, yang kebanyakan ulama pada saat itu melihat
dua hal tersebut bertentangan seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi,
salah satu ulama yang notabene seangkatan dengan Kiai Khalil.


Memang, Kiai Khalil hidup pada masa penyebaran tarekat begitu
gencar-gencarnya, sehingga kebanyakan ulama pada saat itu, mempunyai dan
memilki ilmu-ilmu kanuragan, dan tidak terkecuali Kiai Khalil. Namun
demikian, perbedaan antara Kiai Khalil dengan kebanyakan Kiai yang lainnya;
bahwa Kiai Khalil tidak sampai mengharamkan atau pun menyebutnya sebagai
perlakuan syirik dan bid’ah bagi penganut tarekat. Kiai Khalil justru
meletakkan dan menggabungkan antara ke duanya (tarekat dan Fiqh).


Dalam penggabungan dua hal ini, Kiai Khalil menundukkan tarekat di bawah
Fiqh, sehingga ajaran-ajaran tarekat mempunyai batasan-batasan tersendiri
yaitu fiqh. Selain itu, ajaran tarekat juga tidak menjadi ajaran yang tanpa
ada batasannya. Namun, yang cukup disayangkan adalah, tidak banyaknya
referensi yang menjelaskan tentang cara atau pun pola-pola dalam
penggabungan tarekat dan fiqh oleh Kiai Khalil tersebut.


*Peninggalan*


Dalam bidang karya, memang hampir tidak ada literatur yang menyebutkan
tentang karya Kiai Khalil; akan tetapi Kiai Khalil meninggalkan banyak
sejarah dan sesuatu yang tidak tertulis dalam literatur yang baku. Ada pun
peninggalan Kiai Khalil diantaranya:


Pertama, Kiai Khalil turut melakukan pengembangan pendidikan pesantren
sebagai pendidikan alternatif bagi masyarakat Indonesia. Pada saat
penjajahan Belanda, hanya sedikit orang yang dibolehkan belajar, itu pun
hanya dari golongan priyayi saja; di luar itu, tidaklah dapat belajar di
sekolah. Dari sanalah pendidikan pesantren menjadi jamur di daerah Jawa, dan
terhitung sangat banyak santri Kiai Khalil yang setelah lulus, mendirikan
pesantren. Seperti Kiai Hasyim (Pendiri Pesantren Tebuireng), Kiai Wahab
Hasbullah (Pendiri Pesantren Tambakberas), Kiai Ali Ma’shum (Pendiri
Pesantren Lasem Rembang), dan Kiai Bisri Musthafa (Pendiri Pesantren
Rembang). Dari murid-murid Kiai Khalil, banyak murid-murid yang dikemudian
hari mendirikan pesantren, dan begitu seterusnya sehingga pendidikan
pesantren menjadi jamur di Indonesia.


Kedua, selain Pesantren yang Kiai Khalil tinggal di Madura –khususnya, ia
juga meninggalkan kader-kader Bangsa dan Islam yang berhasil ia didik,
sehingga akhirnya menjadi pemimpin-pemimpin umat.


K.H. Muhammad Khalil, adalah satu fenomena tersendiri. Dia adalah salah
seorang tokoh pengembang pesantren di Nusantara. Sebagian besar pengasuh
pesantren, memiliki sanad (sambungan) dengan para murid Kiai Khalil, yang
tentu saja memiliki kesinambungan dengan Kiai Khalil. Beliau wafat pada 1825
(29 Ramadhan 1343 H) dalam usia yang sangat lanjut, 108 tahun.

Kamis, 09 September 2010

MEMULAI BISNIS ,,,,YUK, ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Dalam
memulai bisnis, entah itu bisnis percetakan atau wirausaha lainnya yang
sesuai dengan bakat dan ketrampilan anda, ternyata riset bisnis telah
banyak menyimpulkan faktor-faktor keberhasilan para entreprener dalam
meniti karier usaha mandirinya dalam beberapa langkah.
...Berikut ini 9 langkah sukses yang umumnya dimiliki oleh kaum entrepreneur alias pengusaha dalam memulai langkah usaha bisnisnya:
1. Milikilah Mentor
Jangan memulai sesuatu dari NOL. Sudah banyak pengusaha sukses yang
melakukan kesalahan-kesalahan yang amat mahal, belajarlah dari mereka
agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebab KESALAHAN harganya
sangat MAHAL.
Bila kita ingin memulai bisnis promotor, coba belajarlah terlebih
dahulu dari promotor yang sudah sukses seperti Adri Subono (Java
Musikindo) atau Peter Basuki (Buena Production) .Bila kita ingin memulai
bisnis restoran mungkin orang yang tepat adalah Rene S. Canoneo
(Segarra), bila ingin berbisnis kaos kita bisa berguru ke Pak Wiwied
(C59).Kita mungkin bisa mendatangi seminar mereka atau langsung saja
bertandang ke kantor mereka. Orang-orang yang sudah sukses justru
merupakan orang-orang yang ramah dan rendah hati. Mentor yang baik akan
sangat senang mendengar ide-ide kita. Mereka akan membimbing kita menuju
kesuksesan dengan lebih cepat.
2. Buat 3 panggilan
Jangan biarkan ide bisnis yang bagus terlewat begitu saja. Selalu
catat ide Anda! Mulailah dari apa yang kita sukai, mungkin ada 3
pertanyaan basic yang perlu kita jawab sebelum membuka bisnis:
> saya suka apa? > saya bisa apa? > saya mau apa?
Buatlah minimal 3 panggilan dengan orang-orang yang mungkin menyukai
ide bisnis ita. Bertemulah dengan mereka, jangan pernah takut ide kita
dicuri! Ide yang baik dan orisinal adalah sebuah ide yang HANYA dan
HANYA KITA yang mampu menjalankannya dengan sukses…
Inilah yang dilakukan Pak Ciputra ketika ia barus lulus S1 dan
memiliki ide mengenai taman bermain di Ancol. Beliau bertemu dengan
Gubernur Jakarta dan menceritakan idenya dengan semangat.”Entrepreneur
itu harus bisa mengubah sampah menjadi berlian…”, kata beliau…Tanah
tandus yang tidak ada harganya kini berubah menjadi kawasan elite..Kini
terbukti dari sekian banyak pengusaha properti di Indonesia, HANYA dan
HANYA Pak Ciputra yang begitu sukses memiliki real estate nomor satu di
Vietnam dan berbagai kota besar di Asia…
Pantaslah bila beliau menyabet Entrepreneur of The Year 2007 dari Ernst & Young.
Saya sangat kagum pada beliau, tidak menyangka di usianya ke yang 76
ia bercerita dengan penuh semangat bahwa beliau masih akan
melipatgandakan bisnis propertinya 2 kali lipat lagi! Yang menyebabkan
bisnis itu sukses bukan hanya ide melainkankarakter, determinasi, dan
kemampuan eksekusi sang pendiri.
3. Jangan pernah berasumsi
Asumsi adalah induk kegagalan. Jangan pernah berasumsi bahwa kita
terlalu muda untuk memulai bisnis atau kita terlalu “kecil” untuk
bekerjasama dengan pengusaha-pengusaha “besar”. Kita tidak akan pernah
kelihatan “kecil” apabila mau terus belajar dan berkembang!
4. Simpan 10%
Bisnis memiliki masa-masa naik dan masa-masa turun. Selalu
berjaga-jaga terhadap kemungkinan terburuk adalah hal yang bijaksana.
Sisihkanlah 10% dari profit untuk kejadian-kejadian tak terduga.
5. Ketahuilah mengapa kita terjun ke bisnis tersebut
Semua orang memiliki mimpi. Tulislah mimpi tersebut agar kita tetap
ingat akan mimpi-mimpi kita sebelum kita mendirikan bisnis. Memiliki
impian yang tinggi akan membuat api itu terus menyala di kala bisnis
kita mengalami masa-masa yang sulit.
6. Jadilah brilian di area sales & marketing
Sales dan marketing adalah dua ujung tombak pemasukan bisnis kita.
Belajarlah terus dari buku-buku maupun seminar-seminar karena tanpa
sales & marketing yang baik bisnis kita tidak mungkin akan bertahan.
7. Jangan bekerja untuk uang
Bekerjalah bukan untuk uang namun untuk melayani orang lain.
Bapak Dahlan Iskan (Jawa Pos Group) yang baru sukses melakukan
pencangkokan lever karena kanker lever kini seperti memiliki hidup yang
kedua, ia berpesan bahwa kebahagiaan sejati seorang entrepreneur didapat
bukan dari banyaknya uang yang dia terima, melainkan dari seberapa
banyak orang yang menjadi lebih bahagia dan lebih mudah hidupnya karena
menggunakan produk/jasa kita.Hidup yang berguna adalah hidup untuk
melayani orang lain…
8. Jadilah orang terbodoh di perusahaan Anda
Kelilingilah diri Anda dengan orang-orang brilian. Orang-orang yang
memiliki passion dan drive. Rekrutlah orang-orang bermutu,
bekerjasamalah dengan orang-orang terbaik.Pak Teddy Rahmat (mantan CEO
Astra) pernah berpesan bahwa investasi gaji di SDM tidaklah mahal. Yang
mahal itu hanya 2 hal: KESALAHAN dan LOST OPPORTUNITY! Tak heran bila
Astra International selalu menjadi perusahaan idaman para pencari kerja
selama 3 tahun berturut-turut.
9. Belajarlah terlebih dahulu
Bekerjalah di perusahaan orang lain terlebih dahulu sebelum
mendirikan bisnis Anda. Semua bisnis apabila dilihat dari luar kelihatan
begitu menggiurkan untuk dijalankan, namun mungkin kita akan menemukan
bahwa kita membenci industri tersebut setelah kita berada di dalamnya.
Nah, sudahkah anda memiliki motivasi sukses tersebut? Saya yakin anda semua ingin cepat sukses. So, tunggu apalagi…???

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, http://radionu.blogspot.com ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Senin, 30 Agustus 2010

KONSEP POLIGAMI RADIO NU KARANGPANDAN SOLO

                                              KONSEP POLIGAMI RADIO NU KARANGPANDAN SOLO


,,,,,,,,,,JUAL PEMANCAR FM MURAH BERKWALITAS,,,,,,,,,,TOWER,,,,,,,,,,,ANTENA PEMANCAR ,,,,DLL,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

                          Konsep poligami yang lebih bernuansa sosial dan menjauhkan diri dari memperturutkan syahwat, maka saya melihat aspek lain yang menurut saya lebih berbahaya daripada memperturutkan syahwat, yaitu kekufuran.Jujur saja, bagi perempuan masalah utama poligami adalah masalah perasaan … bukan masalah keadilan, bukan masalh mendekatkan kekeluargaan, bukan masalah menolong janda miskin, bukan masalah menolong anak yatim … ,
                          Lihatlah Rasul yang mulia yang paling adil yang isterinya adalah janda-janda tetap mendapatkan masalah dari isteri-isterinya …Tanyakan kepada isteri anda atau teman perempuan anda, atau mungkin anda sendiri, apakah jika mereka memiliki teman perempuan yang janda dan miskin maka mereka akan merelakan meminta suaminya menikah dengan temannya itu??? Saya yakin 99 dari 100 perempuan akan tetap menolak. Sakit mbaaak … sakiiiiiiit ….. , 
                           Ya itulah alasan utamanya.Saya sudah melihat banyak contoh dan komentar kaum perempuan dan para penasehat perkawinan yang berpusat pada perasaan … yah, perasaan … inilah sebenarnyaJadi, membicarakan aspek sosial poligami yang sangat mulia itu sangat baik, tapi tetap tidak menyelesaikan masalah keperempuanan dalam poligami itu sendiri … karena perasaan tidak dapat diselesaikan dengan wacana, tapi dengan kerelaan pelakunya masing-masing menahan diri dari kebencian dan tindakan berlebihan … ,,,,, 



                          Lihatlah misalnya Aisyah ummul mukminin ketika bersama Rasul dan beberapa sahabat dan pada saat itu ada seorang pelayan yang datang membawakan makanan untuk Rasul dari salah satu isterinya. Kecemburuan Aisyah langsung bangkit sehingga dia menepis makanan yang dibawa itu dan wadahnya pecah berantakan. Bayangkan, hal itu dilakukannya terhadap manusia paling mulia, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di hadapan para sahabat. Jika saya yang mengalami, sungguh saya tidak yakin dapat bersabar,

                            Lihatlah Rasul yang hanya tersenyum dan berkata kepada sahabatnya, “Ibu kalian sedang cemburu.” Tapi juga diikuti perkataan selanjutnya, “wadah diganti wadah dan makanan diganti dengan makanan.” Maaf BAGI mbak, mbak, ketika anda cemburu dan berbuat buruk, kecemburuan itu wajar tapi keburukan tetap memiliki konsekuensinya.Ini adalah sebuah upaya memaklumi naluri perempuan tanpa membenarkan keburukan. Jadi, silahkan cemburu tapi tahanlah lidah dan tangan anda dari perbuatan buruk, karena itu akan memiliki konsekuensi tersendiri.



                             Jika KITA melihat bahaya dari suami-suami yang memperturutkan nafsu, yang dalam bahasa KITA serupa dengan perzinahan, maka sudahkah kita mengkhawatirkan perempuan-perempuan yang begitu memperturutkan perasaannya sehingga tidak takut terjerumus dalam kekufuran??? Bagaimana bisa kufur??? Ya, ketika kita menolak apa yang sudah jelas dari Allah bukankah itu dapat menjatuhkan kita pada kekufuran …


                              Dan kita dapat melihat banyak contohnya di zaman ini orang-orang yang mengingkari apa-apa yang sudah jelas dalam agama. Ada yang mengingkari wajibnya shalat, ada yang mengingkari wajibnya haji, ada yang mengaku sebagai nabi dan ada yang mengikuti nabi palsu itu …



                             Para ulama sudah menjelaskan bahwa mengingkari kewajiban shalat itu menjatuhkan pada kekufuran tapi tidak mau shalat tanpa mengingkarinya akan menjatuhkan kepada dosa besar. Kenapa? Karena shalat adalah ibadah yang sudah jelas, sudah pasti wajibnya baik melalui al Qur’an, as Sunah, ijma, qiyas dan kesepakatan ulama dan umat sejak awal hingga akhir.Begitu juga poligami adalah sesuatu yang jelas kebolehannya dalam al Qur’an, sunah, ijma ulama dan umat Islam,,,,,…  


                                  Lalu bagaimana sesuatu yang begitu jelas ini ditolak oleh sebagian orang dan dikatakannya haram???Kejelasan ini dalam bahasa adalah qath’I … dan para ulama ushul sudah menjelaskan bahwa penolakan pada sesuatu yang qath’I dalam agama dapat menyebabkan pelakunya jatuh ke dalam kekufuran. Tentu ini tidak berarti saya menuduh anda kufur atau mengajak yang lain untuk menuduh kufur … karena di masa sekarang ada alasan berupa syubhat yang besar dari pemikiran-pemikiran yang baru, sehingga kita yang awam ini agak sulit menentukan apakah ini sifatnya qath’I atau tidak. 



                                    Tapi dengan ini saya ingin mengajak anda, para muslimah, agar berhati-hati menjaga iman anda, dan jangan sampai kecemburuan anda menjatuhkan anda pada perbuatan yang divonis oleh para ulama sebagai kufur itu. Berhati-hatilah muslimah, berhati-hatilah.Jika kecemburuanmu begitu besar dan kau tidak mampu menahannya, mintalah berpisah secara baik-baik untuk menjaga agamamu dan ini dibenarkan … bukan karena cemburu atau tidak mau dimadu atau soal harta …
                                     Tapi karena menjaga agama, sebagaimana isteri Tsabit bin Qais yang meminta berpisah dari suaminya karena khawatir jatuh pada kekufuran berupa durhaka kepada suami … sebab, jika alasanmu adalah karena dunia, maka itu adalah alas an yang salah, dan nabi mengingatkan bahwa tuntutan cerai dari seorang perempuan tanpa alas an yang benar akan menghalanginya dari bau surga, apalagi memasukinya.
Terakhir, seperti kata al Qur’an : Bisa jadi apa yang kau sukai itu tidak memberikan kebaikan padamu, dan bias jadi apa yang kau benci itu ternyata baik untukmu. Allah yang Mahamengetahui dan kita tidak banyak mengetahui. Maka, pasrah kepada Allah adalah bagian dari iman


,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, http://radionu.blogspot.com

Senin, 23 Agustus 2010

GUNUNG LAWU

                                           
para tokoh ulama
                                                                                                                                                         HABIB SYECH    adalah salah satu putra dari 16 bersaudara putra-putri Alm. Al-Habib Abdulkadir bin Abdurrahman Assegaf ( tokoh alim dan imam Masjid Jami' Asegaf di Pasar Kliwon Solo), berawal dari pendidikan yang diberikan oleh guru besarnya yang sekaligus ayah handa tercinta, Habib Syech mendalami ajaran agama dan Ahlaq leluhurnya. Berlanjut sambung pendidikan tersebut oleh paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang datang dari Hadramaout. Habib Syech juga mendapat pendidikan, dukungan penuh dan perhatian dari Alm. Al-Imam, Al-Arifbillah, Al-Habib Muhammad Anis bin Alwiy Al-Habsyi (Imam Masjid Riyadh dan pemegang magom Al-Habsyi). Berkat segala bimbingan, nasehat, serta kesabaranya, Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf menapaki hari untuk senantiasa melakukan syiar cinta Rosull yang diawali dari Kota Solo. Waktu demi waktu berjalan mengiringi syiar cinta Rosullnya, tanpa di sadari banyak umat yang tertarik dan mengikuti majelisnya, hingga saat ini telah ada ribuan jama'ah yang tergabung dalam Ahbabul Musthofa. Mereka mengikuti dan mendalami tetang pentingnya Cinta kepada Rosull SAW dalam kehidupan ini.
Ahbabul Musthofa, adalah salah satu dari beberapa majelis yang ada untuk mempermudah umat dalam memahami dan mentauladani Rosull SAW, berdiri sekitar Tahun1998 di kota Solo, tepatnya Kampung Mertodranan, berawal dari majelis Rotibul Haddad dan Burdah serta maulid Simthut Duror Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf memulai langkahnya untuk mengajak ummat dan dirinya dalam membesarkan rasa cinta kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW .


KEGIATAN AHBABUL MUSTHOFA

Pengajian Rutin (zikir & sholawat)
setiap hari Rabu Malam dan Sabtu Malam Ba'da Isyak di Kediaman Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf .
Pengajian Rutin Selapanan Ahbabul Musthofa
- Purwodadi ( Malam Sabtu Kliwon ) di Masjid Agung Baitul Makmur Purwodadi.
- Kudus ( Malam Rabu Pahing ) di Halaman Masjid Agung Kudus.
- Jepara ( Malam Sabtu Legi ) di Halaman Masjid Agung Jepara .
- Sragen ( Malam Minggu Pahing ) di Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen.
- Jogja ( Malam Jum'at Pahing ) di Halaman PP. Minhajuttamyiz, Timoho, di belakang Kampus IAIN.
- Solo ( Malam Minggu Legi ) di Halaman Mesjid Agung Surakarta.

BIOGRAPHY HABIB SYECH BIN ABDULKADIR ASSEGAF

Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf was born in Solo city, Indonesia. When he was young he was the ‘muazzin’ for the Assegaf Mosque in Solo. At times, he read the Qasidah at Masjid Riyadh with the late Habib Anis Al Habsyi. He regularly led the singing and reading of Qasidah and ‘Sholawat’ with Majlis of Ahbaabul Mushthofa with the various Wirid such as Ratib Al Attas, the Diwan and ‘Sholawat’ of Habib Ali Al-Habsyi and the Diwan and Qasidah of the famous Imam Abdullah Al Haddad

Minggu, 22 Agustus 2010

jual pemancar radio dan pemancar tv

JUAL..............PEMANCAR RADIO............PEMANCAR TV...........HUB..........085 293 222 425............


.............................KARANGPANDAN.......................SOLO............INDONESIA